
Penulis dan Ilustrator : Marcella FP
Penerbit : POP Publisher
Terbit : Oktober 2018
Tebal : 200 halaman
Harga : 125.000
“Jangan mudah tersinggung, di bumi…bukan cuma kamu yang punya perasaan”
Sepenggal tulisan yang dikutip dari buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Dada saya seketika disesaki berbagai macam perasaan yang tidak lagi kenal wujudnya. Senang, sedih, terharu, luluh, bahagia, penghargaan, penerimaan diri… entah bagaimana semuanya bisa terkolaborasi sedemikian apik.
Tulisan demi tulisan di dalamnya selalu saja berpusat pada hal-hal personal yang kerap dialami manusia. Tentang memori, jatuh, bangun, tumbuh, gagal, menunggu, bertahan, ekspektasi, harapan, cara pandang, serta ketakutan manusia yang terkadang hanya bisa dirasa, tanpa mampu dijabarkan.
Buku ini mulai digarap Marchella FP pada Oktober 2016, yang ia awali dengan tulisan terlebih dulu. Setahun berselang, ia mulai melengkapinya dengan gambar. Oktober 2018, buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini mulai beredar di toko buku. Bahkan di bulan yang sama, mahakarya ini sudah memasuki cetakan ke-4.
Kalau pada umumnya para pembaca buku ini berasal dari para follower Instagram @nkcthi, tapi tidak dengan saya. Saya mulai menjadi salah satu followernya ketika saya sudah membaca buku ini. Buku ini menarik rasa penasaran saya untuk mengenali sang penulis. Menurut saya, Marcella FP sudah mampu menuliskan karyanya penuh dengan rasa.

Cover buku ini sangat sederhana, hanya bergambarkan ilustrasi jendela dengan hiasan tanaman didekatnya. Buku ini berisikan penggalan kalimat yang dihiasi ilustrasi yang menggambarkan setiap kalimat di setiap halamannya. Buat saya buku ini cukup unik, tidak seperti buku pada umumnya.
Buku ini dibagi menjadi 4 sub tema di dalamnya, yaitu : Pagi, siang,sore dan malam.

Pagi…
“Pagi sering terlalu cepat bertamu, rasanya kita pun belum siap bertemu. Tapi…banyak hal baik yang harus dijemput pagi ini “
Di sub tema Pagi ini, penulis menceritakan banyak hal yang terjadi saat menjemput mimpi. Mulai dari menaklukkan rasa takut dan ragu, cara bertahan, hingga gambaran manusia yang selalu bertahan bersama ego nya.

Siang…
“Kita sedang sama-sama bergerak. Mungkin menuju titik yang sama, atau mungkin berlawanan. Tolong,jangan bertabrakan.”
Siang saatnya mengambil sudut pandang yang berbeda dalam”melihat” sesuatu. Karena bisa jadi itu membawa energi positif tersendiri untuk diri.
Sore..
“Terasa panjang perjalanan pulang langit biru menuju abu-abu. Seperempat sisa energi beri ruang untuk mengulang”
Sore bercerita tentang bagaimana kita memandang ” manusiawi” terhadap diri. Menyadari bahwa kita manusia yang memiliki segala macam keterbatasan. Menetapkan prioritas dan target yang sesuai dengan kemampuan diri adalah pesan besar yang terangkum dalam cerita Sore.

Malam..
“Hidup itu lucu ya…yang dicari, hilang…yang dikejar,lari…yang ditunggu, pergi.. Sampai hari kita lelah dan berserah. Saat itu semesta bekerja… Beberapa hadir dalam rupa sama… Beberapa lebih baik dari rencana.. Sang pencipta baik sekali ya..”
Malam jadi waktu yang tepat untuk menerka nasib esok hari. Malam juga ajarkan bahwa ada TUHAN yang selalu baik membersamai hidup. Menjaga diri ketika semuanya hilang, menghidupkan hati ketika kecewa tersinyalir.
Tulisan ini sedikit mereview buku favorit saya, namun banyak sudut pandang yang mungkin sedikit berbeda dalam memaknai setiap penggalan katanya.
” Nanti kita cerita tentang hari ini…besok kita buat yang lebih baik lagi “
